Layang-Layang - Sang Mentari

Breaking

Sang Mentari

Personal & Life Style Blog

Conected

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 29 September 2017

Layang-Layang

Hasil gambar untuk layang layang





Mainan ini memang mainan yang tak pernah lekang oleh waktu. Sepanjang masa mainan ini selalu ada, dan menjadi minat tersendiri di semua kalangan baik anak-anak, remaja bahkan dewasa.
Layang-layang ini juga yang menjadi cerita kehidupan anakku. Beberapa hari yang lalu, saat aku menghubunginya, jagoan kecilku Hedi sempat mengatakan mau minta uang 20 ribu. Saat aku tanya, buat apa uang itu nanti, ia bilang kalau mau digunakan untuk “kulakan” layang-layang di Taman Mundu Surabaya. Mendengar permintaannya tersebut, langsung aku iyakan saja. “Tunggu Bunda pulang ya Mas,” jawabku.

Tanpa aku duga dan aku kira, siang tadi jagoan kecilku meminta uang ke ibuku. Lantaran ibuku ada tamu, alhasil langsung dikasih aja seadanya uang kecil yang ada di dompet ibuku. Ternyata, uang 20 ribu yang diterima jagoanku.

Sepulang tamu tersebut, ibuku langsung mencari anakku yang sudah lama pergi. Sambil harap-harap cemas, setiap gang di dekat rumah dilewatinya, namun tidak membuahkan hasil.

Sepulangnya anakku, di cerita kalau pergi mengunakan sepeda ke Taman Mundu sama teman-temannya untuk “kulakan” layang-layang. Dengan modal 20 ribu, jagoanku membawa 25 layang-layang. Mendengar cerita dari jagoanku, ibuku langsung kaget bukan kepalang. Perjalanan rumah ke Taman Mundu itu terbilang cukup jauh.

Setelah itu, anak semata wayangku langsung pergi menawarkan layang-layang tersebut ke teman-temannya dengan harga seribu rupiah. Dagangan layang-layangnya langsung habis saat itu juga.
Di sisi lain, aku merasa bangga dengan anakku. Di usia yang belum 7 tahun, dia sudah mempunyai jiwa berbisnis dan merasakan susahnya cari uang. Di sisi lain, rasa was-was dan khawatir menyelimuti hatiku.

Mendadak, teringat saat anakku belum berusia 3 tahun. Saat itu, anaknya pengasuh Hedi, sempat jualan kantong plastik di pasar. Eh, di usianya yang saat itu belum genap 3 tahun, dia sempat bilang kalau mau ikutan jualan kantong plastik di pasar.

Langsung aja, perkataannya tidak aku ijinkan dan aku pun mengatakan ke ayahnya niatan Hedi saat itu. Saat itu, ayahnya pun juga melarang Hedi ikut berjualan kantong plastik.

Niatan Hedi untuk berjualan 4 tahun lalu, ternyata dilakukannya hari ini. Demi memperoleh untung 5 ribu rupiah, dia rela kepanasan bersepeda ke Taman Mundu dan keliling dekat rumah untuk menawarkan Layang-Layang dagangannya.

Kalau ayahnya tau mengenai hal ini, apakah dia masih melarang Hedi berjualan ataupun membiarkannya. Aku tidak tahu jawabannya. Aku tidak mau menebak-nebak jawabannya. Hanya Allah yang tau isi hati ayahnya Hedi. Semoga Allah segera memberi hidayah untuk ayahnya Hedi.

Tetap berjuang dan semangat ya jagoan kecil Bunda. Bunda disini hanya bisa mendoakanmu semoga kamu selalu dalam keadaan sehat wal’afiat. Bunda disini memperjuangkan masa depanmu ke  arah yang lebih baik.


1 komentar:

Post Top Ad

Responsive Ads Here