SOCIAL MEDIA

Sabtu, 30 September 2017

Aku, Dirimu, Dirinya

Gambar terkait



Malam kian semakin larut, kupandang bintang dari jendela kamarku. Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku. Pikiranku melayang tak tau arahnya. Tatapan mataku benar-benar kosong. Lamunanku langsung hilang saat ada yang memanggilku di dari balik pintu kamar.

“Bunda,” panggil jagoan kecilku.

“Iya sayang,” jawabku spontan sambil berjalan ke arah pintu.

“Bunda kenapa bersedih,” tanya Hedi sambil memberi isyarat tangannya kalau minta digendong.

“Tak apa-apa sayang,” ujarku sambil menutupi kesedihan dari anakku.


Sambil mengendong anakku, pikiranku masih melayang tak tentu arah. Pikiranku masih bertanya, ada apa dengan Tio, suamiku. Kok hampir sebulan sikapnya berubah. Sebulan belakangan ini, suamiku selalu pulang malam. Handphone pun sekarang juga tak pernah jauh dari gengamannya. Begitu handphone nya berbunyi, dia selalu sigap mengangkatnya. Kini, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun belum ada tanda- tanda kedatangannya. Sambil menemani jagoanku tidur, mata ini pun ikut terpejam.


Hari demi hari terus berlalu, sikap suamiku pun kini mulai jarang pulang. Bahkan, tiga hari sekali dia baru pulang. Aku pun sudah mulai terbiasa dengan sikapnya. Saat anakku berulang tahun, aku pun mengajak kedua orang tuaku dan anakku pergi ke sebuah mall untuk sekedar makan bersama dan mengajak Hedi bermain ke Timezone.


Perjalanan ke timezone, tanpa sengaja, pandangan mataku tak sengaja melihat sosok suamiku berjalan mesra dengan seorang wanita. Tanpa pikir panjang, anakku langsung aku titipkan ke kedua orang tuaku dan aku pun membuntuti suamiku dengan wanita itu. Rupanya, itu mobil yang dikendarai suamiku berhenti di depan rumah berwarna hijau.


Sambil mengumpulkan keberanian, aku pun nekat masuk ke dalam rumah itu. Betapa kagetnya aku, saat aku masuk ke dalam rumah itu. Foto pernikahan suamiku dengan sang wanita itu terpampang jelas.

“Assalam mualaikum,” ucapku.

“Waalaikum salam,” jawab suamiku datar dan dibelakangnya diikuti dengan sosok wanita yang aku liat di mall tadi.

“Siapa dia,” tanyaku dengan suara menahan marah dan air mata.

“Mau apa kamu kesini,” bentaknya

“Ayo kita pulang,” ucapnya sambil menarik tannganku keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil pun, kami berdua diam membisu. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Aku masih berusaha tegar. Aku tidak mau terlihat lemah dan menangis di depan suamiku.

Sesampainya dirumah, suamiku langsung membanting pintu.

“Ngapain kamu ikutin aku,” bentaknya.

“Siapa wanita itu,” tanyaku balik.

“Dia mantan pacarku dulu dan kini sudah menjadi istriku,” jawabnya serasa di sambar petir di siang bolong.

“Mulai detik ini kamu sudah  bukan menjadi istriku. Perceraian kita akan segera aku urus,” lanjut Tio sambil berjalan ke arah kamar.

Ucapan Tio membuatku tak kuasa menahan air mata. Air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya tumpah juga.


Selepas mengambil bajunya, Tio pun langsung pergi meninggalkan rumah. Berselang sebulan kepergiannya, surat perceraian akhirnya datang juga. Semenjak kejadian itu, aku dan anakku sudah tidak pernah mendapatkan kabar dari Tio. Jangankan Tio menemui si kecil. Nafkah untuk kebutuhan si kecil pun tak pernah diberikan



Tidak ada komentar :

Posting Komentar