Andai Dia Tahu - Sang Mentari

Breaking

Sang Mentari

Personal & Life Style Blog

Conected

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 21 Oktober 2017

Andai Dia Tahu

Hasil gambar untuk andai dia tahu perasaanku



Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku
Andai dia tau

“Sinta, jangan nyanyi mulu. Sudah hampir jam 6. Nanti kamu telat lho,” teriak ibuku
“Iya bu,” jawabku sambil bergegas mandi.

Setelah selesai bersiap-siap, aku langsung pamit kepada kedua  orang tuaku. Tak lupa headset aku pasang di kedua telingaku. Lagu- lagu Kahitna selalu setia menemani perjalananku. Dengan mengendarai motor kesayanganku,  aku pun berangkat ke sekolah.

Kring...
Akhirnya bel yang aku tunggu berbunyi juga..  saatnya jam istirahat.
“Ini saat yang aku tunggu,” gumamku dalam hati.

Tanpa menunggu lama, aku pun langsung keluar kelas. Tujuan pertamaku kali ini bukan kantin. Tapi aku ingin duduk di depan kelas.

“Sinta, ayo ke kantin,”
“Kamu duluan aja ke kantin,” pintaku kepada Diah sahabatku
“Oke,” tanpa pikir panjang Diah langsung meninggalkanku sendirian.

Tak lama, orang yang aku tunggu akhirnya keluar kelas juga. Ya, aku menunggu Mas Indra keluar dari kelasnya. Sambil bengong, aku menatap wajah mas Indra dari kejauhan.

Rupanya saat itu, mas Indra menyadari kalau aku sedang memperhatikan wajahnya. Dengan sedikit malu, aku pun langsung mencoba mengalihkan pandanganku dari mas Indra. Aku langsung berdiri dan berjalan ke kantin.

Tidak hanya saat jam istirahat, saat jam kosong pun aku selalu duduk di depan kelas. Berharap kelas Mas Indra juga kosong. Tanpa aku sadari sikapku itu menimbulkan pertanyaan dalam benak Diah, sahabatku.

“Aku perhatikan, kamu hampir seminggu ini lho selalu duduk di depan kelas dan selalu memandang kelas 2A,” tanya sahabatku.

“Masak sih? Perasaanmu aja kali,”

“Ga kok. Sudahlah kamu jujur aja sama aku,” bujuk sahabatku.


Dengan sedikit malu, aku pun menceritakan yang sedang aku alami ini ke sahabatku. Aku sedang jatuh cinta. Ya, aku sedang jatuh cinta sama mas Indra kakak kelasku.

“Kamu jatuh cinta sama mas Indra? Kok bisa?,” tanya Diah

Aku pun hanya diam membisu. Tak menjawab pertanyaan Diah.  Hanya senyuman yang mengembang di bibirku.

Hari demi hari pun berlalu, itu akhirnya menjadi kebiasaanku setiap jam kosong ataupun jam istirahat. Cukup memandang wajahnya yang cool, aku pun merasa senang. Namun, sampai kapan aku harus begini? Apa aku harus menceritakan perasaanku ke mas Indra? Kalau aku menceritakan perasaanku ke mas Indra, aku pasti malu.

“Sinta, sampe kapan kamu akan begini? Sudahlah, kamu cerita aja ke Mas Indra soal perasaanmu ke dia,” bujuk Diah

“Aku  harus nembak mas Indra? Gak ah, malu,”

“Tolong kamu jangan bilang ke mas Indra ya soal ini,”


Tekadku sudah bulat. Aku tidak akan mengungkapkan perasaanku ini ke Mas Indra. Biarlah perasaanku ini hanya Allah, aku dan Diah yang tahu.  

“Ya Allah, aku mohon, tolong yakinkan Mas Indra agar jatuh cinta juga kepadaku,” pintaku selalu setiap selesai sholat.

5 komentar:

Post Top Ad

Responsive Ads Here