November 03, 2017
0



Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Rugi hingga bangkrut, tak membuatnya kapok berbisnis. Sebelum menerjuni bisnisnya yang saat ini, berbagai bidang bisnis sudah dilakukan Dinii. Bukan keberhasilan yang berhasil dilaluinya, namun Dinii sempat mengalami kebangkrutan.

“Sebelum bisnis yang sekarang, saya sudah melewati banyak cerita bisnis yang saya anggap sebagai pelajaran. Dulu, saya pernah buka konter HP, dealer resmi beberapa provider, sampe punya 4 cabang. Lalu bisnis ini menjamur yang akhirnya membuat toko saya tutup karena persaingan yang semakin ketat, pernah buka toko ATK dan fotocopy, toko kelontongan, antar jemput anak sekolah, bisnis rumah makan, warung pecel lele, rental mobil, lalu yang besar pernah buka perusahaan (CV) yang bergerak di jual beli computer selama hampir 8 tahun. Pernah juga buka toko Accessories, bando, barang-barang kado, dll. Alhamdulillah semuanya kolaps, alias bangkrut sebangkrut-bangkrutnya,” beber Dinii saat ditemui di kediamannya di kawasan Jl. Puri Asri, Cikutra Bandung.

Setelah bisnis yang digelutinya tersebut mengalami kebangkrutan, di tahun 2014, Dinii pun saat itu seolah berada di titik minus. Dini dan keluarganya meninggalkan rumah yang disita bank dan dia mengungsi ke kamar kos yang berukuran 2,5 x 3 sehingga kamar kos tersebut ditempati berlima dan hanya tidur beralaskan karpet. Saat itu, ia membatasi jatah makanan anak-anaknya dan anaknya pindah ke sekolah negeri agar gratis. Bahkan, dia menitipkan anaknya yang bungsu kepada adiknya karena dia tidak mampu membeli susu dan diapers.  “Sejak saat itu, saya berjuang mati-matian agar bertahan hidup. Saya berjualan aksesoris di alun-alun setiap minggu pagi dan belanja barang ke jakarta naik bis berangkat subuh dan pulang subuh, sehingga saya akrab dengan terminal, akrab dengan Cikampek di larut malam. Tidur di stasiun Senen sudah biasa, nongkrong di Palimanan sambil nunggu elf jam 3 pagi sudah rutin saya  lakukan. Makan sehari sekali juga sudah alhamdulillah,” bebernya.

Dinii menyadari agar bisa melesatkan bisnisnya, yakni dia terus belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Untuk itu, Januari 2016, Dinii memutuskan untuk hijrah total ke Bandung. Di Bandung Dinii mengontrak rumah kecil dan dia mencari inspirasi ke berbagai tempat mengikuti pelatihan gratis hingga akhirnya bertemu dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA). “Saya banyak mencari ilmu hingga tercetus berbisnis baju muslim, dan dari situ saya belajar mengenai bisnis online dengan banyak pakar. Saya praktekkan satu persatu semua ilmu itu dengan apa adanya,” bebernya.

Akhirnya tepat 1 Februari 2016, dengan mengusung brand Mouza, Dinii me launching produknya. Saat itu, dia memproduksi gamis sekitar 400 pcs, dan di hari pertama tersebut, sukses terjual 208 pc. Keuntungan yang didapatnya belum membuat Dinii dan keluarganya pindah ke kontrakan yang lebih memadai dan nyaman. Bahkan, saat launching ke 6, Mouza berhasil mencatat penjualan 1000 pcs di hari pertama launching.  “Saat ini Mouza terus meningkatkan kapasitas produksinya secara bertahap,” tuturnya.

Dalam menjalankan bisnisnya dengan sistem online, berbasis web dan media sosial, Dinii menggunakan sistem keagenan untuk mempercepat jalur distribusi. Dengan hampir 1000 orang yang terdiri dari distributor, agen, resseler, dan marketer yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga, terlibat untuk memasarkan produk Mouza dan Dinifi.

Bisnis ini saya jalankan bukan hanya mengejar keuntungan semata. Saya fokus diniatkan untuk membantu teman-teman, terutama ibu rumah tangga yang senasib dengan saya, yang ingin berkembang dan produktif tanpa meninggalkan kewajiban sebagai ibu rumah tangga dengan bergabung di keagenan Mouza & Dinifi. Alhamdulillah sudah banyak kaum ibu yang terbantu, sudah ada yang omsetnya mencapai 100juta lebih perbulan.
Mouza dan Dinifi dibantu oleh kurang lebih sekitar 50 team, dari mulai penjahit, kepala produksi, manajemen produksi, administrasi kantor, CS dan admin.

Insyallah semakin berkembang akan semakin bertambah manfaat hadirnya Mouza ini, semakin membuka banyak lowongan kerja, semakin banyak menebar manfaat, semakin banyak yang terbantu dengan adanya Mouza di dunia bisnis fashion Indonesia ini,” harapnya. 



0 komentar:

Posting Komentar