November 23, 2017
2
Gambar terkait




Gambar terkait


Tepat adzan Magrib berkumandang, Bunda pun pulang ke rumah. Aku lihat mata Bunda sembab dan bengkak seperti habis menangis.
“Bunda, tadi ada Pak Wico dan Bu Mabruroh datang ke rumah,”

Mendengar ucapanku tersebut Bunda hanya diam membisu dan langsung masuk ke dalam kamar. Aku pun tidak mau ikut campur dengan masalah Bunda. aku langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi dan mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat Magrib. Terdengar suara langkah kaki Bunda berjalan ke  kamar mandi.

 “Kris, Heco ayo makan malam. Tadi Bunda ayam bakar kesukaan kalian lho,” teriak Bunda.

Mendengar Bunda menyebutkan ayam bakar, aku pun langsung keluar kamar dan segera menyantap makan malam.
“Bunda ada masalah apa. Kok tadi Kris lihat, mata Bunda bengkak,” tanyaku.
“Gak ada apa-apa kok Kris,” jawab Bunda datar.

Saat asyik makan, terdengar suara pintu seperti diketuk. Bunda langsung berdiri dan membuka pintu. Rasa penasaran mulai menghinggapi hatiku. Aku pun berdiri dan mengintip untuk melihat siapa yang datang ke rumah. Hatiku semakin kaget saat melihat sosok Pak Wico, Bu Mab, dan Pak Dwi berdiri di depan pintu. Yang membuat aku makin terkejut itu, ekspresi wajah Bunda dan membiarkan mereka berdiri di depan pintu tanpa mempersilahkan mereka berdua masuk. Aku pun langsung keluar dan menyapa Pak Wico serta mempersilahkan ketiga guru SMA Merah Putih masuk.

Setelah ketiga guru itu masuk, aku pun mencoba menawarkan minuman untuk mereka berdua.
“Tidak usah Kris. Mereka tidak akan lama kok. Bunda mau keluar sebentar ya sama mereka,” ujar  Bunda.
Bunda pun langsung masuk kamar dan ganti baju. Hati kecilku kian penasaran dengan apa yang terjadi.

***

Dalam perjalanan, mereka berempat diam membisu. Tidak ada suara sama sekali. Sesampai di restoran, mereka langsung memesan makanan. Setelah memesan makanan, Wico pun mulai membuka pembicaraan.

Sebenarnya Mabruroh dan Dwi tidak ada hubungan spesial. Wico mencoba meminta bantuan dari Dwi untuk menyamar sebagai calon Mabruroh. Untungnya Dwi tidak keberatan berpuara-pura sebagai calon Mabruroh.

Sebelum memulai pembicaraan lebih lanjut, Wico mengenalkan Mabruroh dan Dwi. Mabruroh dan Dwi merupakan guru yang ada di SMA Merah Putih. Kebetulan Mabruroh itu merupakan guru baru di SMA Merah Putih.

“Dik, Mabruroh itu guru baru di SMA Merah Putih. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa nanya langsung ke Kris. Tadi siang itu saya dan Mab hanya sekedar makan siang kok dan membahas keperluan sekolah. Tidak ada hubungan yang spesial antara aku dan Mab,” jelas Wico

“Iya bu. Saya sama Pak Wico itu hanya sebatas rekan guru. Tahun depan saya dan mas Dwi, akan menikah. Kebetulan tadi siang itu ada yang mau dibicarakan dengan Pak Wico,” Mabruroh mencoba meyakinkan Winda.

Padahal saat itu hati Mabruroh sedang berkecambuk. Sedih, marah, kecewa campur jadi satu. Mabruroh mencoba menutupi itu semua di depan Winda. Itu semua dilakukan Mabruroh demi anak yang sedang dikandung Winda.

Ucapan Mabruroh tersebut tidak membuat Winda percaya begitu saja. Masih terlihat jelas ekspresi wajah Winda yang kecewa dan marah.

Mencoba meyakinkan Winda, akhirnya Dwi pun ikut bicara. “Bu Winda, kami tidak berbohong kok. Saya dan Mabruroh memang akan menikah tahun depan,”

Tidak ingin membuat Mabruroh dan Dwi kecewa, Winda pun mencoba percaya dengan perkataan Wico, Mabruroh dan Dwi.
“Baiklah, aku percaya dengan semua yang kalian katakan. Maafkan aku ya mas. Aku hanya tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah, dan ayahnya tidak bertanggung jawab,” ujar Winda sambil memegang tangan Wico.
“Percayalah dik. Aku pasti bertanggung jawab. Minggu besok kita bicarakan rencana kita ke Kris dan Heco ya,” janji Wico.

Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang, dan mereka langsung menyantap makanan hingga tak tersisa sedikitpun.
“Pak, saya dan Mabruroh pulang naik taksi online aja. Gak enak diantar pulang Pak Wico,”
“Iya pak. Biar kami pulang berdua aja,” tambah Mabruroh.

Tanpa ada pilihan lain, akhirnya Wico menyetujui permintaan Mabruroh dan Dwi. Selesai makan pun Wico pulang bersama Winda dan Mabruroh bersama Dwi.

Dalam perjalanan pulang, tangis Mabruroh tumpah. Dwi heran Mabruroh menangis. Dengan suara terisak, Mabruroh menceritakan ke Dwi apa yang terjadi. Mabruroh pun akhirnya mengatakan kalau sebenarnya dia dan Wico sempat menjalin hubungan. Namun, semenjak Winda hamil, Wico memilih memutuskan hubungannya dengan Mabruroh dan menikahi Winda.
***

Sebelum mengantarkan Winda pulang ke rumah, Wico dan Winda pun memutuskan untuk mampir ke rumah sakit bersalin untuk memeriksakkan kondisi Winda.
“Selamat ya Bu, sekarang kandungan Ibu sudah masuk minggu keempat,” ucap dokter Nova spesialis kandungan.
“Jaga istrinya baik-baik ya pak. Trimester pertama itu sangat rentan. Apalagi usia bu Winda sudah tidak muda lagi,” lanjut dokter Nova.
 “Iya dokter,” ucap Wico ragu.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Wico pun kembali memastikan Winda kalau Wico akan bertanggung jawab dan segera menikahinya.

*** Bersambung***






2 komentar: