November 26, 2017
2
Gambar terkait



Kejadian tadi sore membuatku tidak bisa tidur. Aku memikirkan ada masalah apa sehingga, Pak Wico, Pak Dwi dan Bu Mabruroh datang ke rumah. Hingga jarum jam menunjukkan pukul 11 malam, mataku belum juga mau terpejam. Kepalaku masih dipenuhi tanda tanya. Bunda pun belum pulang.

Sambil menunggu Bunda pulang, kulangkahkan kakiku ke dapur. Membuat mie instan dan segelas cokelat panas. Tak lama setelah mie instan dan cokelat panasku habis, aku  mendengar suara mobil  berhenti. Tanpa ragu, aku berjalan ke arah jendela. Aku mengintip dibalik jendela. Kulihat di dalam mobil ada  Bunda dan Pak Wico. cukup lama aku mengintip dari balik jendela. Namun, Bunda tak kunjung turun dari mobil Pak Wico.

“Apa yang mereka bicarakan di dalam mobil,” batinku mulai berkecambuk kembali.
Di dalam kebimbanganku, aku melihat sosok Bunda turun dari mobil. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung berlari ke dapur. Aku tidak ingin Bunda tahu kalau aku sedang mengintip.

Pintu rumah mulai dibuka. Ku melihat Bunda sudah memasuki ruang tamu dan ku lihat senyum Bunda sudah mulai mengembang. Bunda sudah bisa tersenyum dibandingkan tadi sore.
“Kris, kamu belum tidur,” tanya Bunda saat melihatku masih ada di dapur.
“Kris terbangun Bunda. Gak tau tadi tiba-tiba Kris lapar banget. Makanya Kris membuat mie instan,” jawabku sambil menutupi apa kebingungan yang sedang melanda dalam diriku.
“Kalau sudah langsung tidur ya. Sekarang sudah jam 12 malam lho,” perintah Bunda.
“Iya Bunda sayang. Ini sudah selesai kok,” jawabku sambil melangkahkan kakiku ke kamar.

Di dalam kamar pun, pikiranku masih berkecambuk. Masih dipenuhi tanda tanya. Kuputar lagu-lagu Kahitna yang ada di handphone ku dan kucoba untuk memejamkan mata.

***

“Kris, ayo bangun. Sudah hampir jam 6 lho,” teriak Bunda dari balik pintu kamarku.
Teriakan Bunda belum membuatku terbangun. Aku masih asyik bermimpi. Melihat belum ada tanda-tanda aku sudah bangun, Bunda langsung masuk ke kamarku.
“Kris, ayo bangun donk. Nanti kamu telat ke sekolah lho,” Bunda sambil mengoyang-goyangkan tubuhku.
Goyangan tangan Bunda membuatku tersadar dan terbangun.
“Iya bunda,” aku pun segera bangun dan berjalan ke kamar mandi. Kulihat jarum jam sudah hampir jam 6 pagi, dan tak lama lagi Dani pasti akan datang menjemputku.

Ternyata benar dugaanku, baru saja aku melangkahkan kaki keluar kamar mandi, ternyata Dani sudah duduk manis di ruang tamu.
“Sabar ya Dan. Tunggu sebentar. Aku baru bangun,” jawabku singkat sambil berjalan ke kamar.

Setelah selesai ganti baju dan bersiap, aku pun berangkat sekolah. Dengan membawa bekal roti untuk sarapan, aku dan Dani pun segera berangkat.

Dalam perjalanan ke sekolah, aku menceritakan kejadian kemarin ke Dani. Dani hanya diam mendengarkan ceritaku. Seolah tak tahu harus berkata apapun lagi. Agak lama Dani berdiam, akhirnya bersuara juga.
“Sudah, kamu gak usah pikirkan. Aku yakin suatu saat kamu pasti akan tau kok jawabannya,” jawab Dani.


***
Siang ini pelajaran Bu Mabruroh. Namun sayangnya jam pelajaran itu kosong, bu Mabruroh tidak masuk. Bu Mabruroh sedang sakit. Sakitnya bu Mabruroh kian membuat hatiku bertanya. Padahal semalam bu Mabruroh kelihatan sehat.
“Kenapa Bu Mabruroh gak masuk ya bu,” tanyaku ke pada bu Wiwid.
“Bu Mab lagi sakit, “jawab Bu Wiwid singkat.

Tanpa menjelaskan lebih lanjut sakit yang di derita bu Mabruroh, Bu Wiwid pun melanjutkan pelajaran kemarin  

***

Mengetahui hari ini Mabruroh tidak masuk mengajar, Dwi menebak bahwa Mabruroh masih sakit hati dan kecewa dengan keputusan Wico. Untuk itu, Dwi pun berencana untuk menjenguk Mabruroh sepulang sekolah. Namun, sebelum menjenguk Mabruroh, Dwi berinisiatif untuk berbicara dengan Wico mengenai perasaan Mabruroh.

“Pak Wico, semalam dalam perjalanan pulang Bu Mabruroh menceritakan semuanya. Aku baru melihat semalam Bu Mabruroh nangis,”
“Iya pak Dwi. Saya yakin bu Mabruroh pasti sedih dan kecewa dengan keputusan yang harus saya ambil. Namun saya kan harus bertanggung jawab ke mamanya Kristin,” ujar Wico sambil tertunduk lesu.
“Saya mohon bantuannya ya Pak Dwi. Tolong hibur bu Mabruroh,” lanjut Wico.
“Iya pak. Ini saya mau menjenguk bu Mab,”

Mendengar jawaban Dwi, Wico sedikit bernafas lega. Setidaknya, Mabruroh tidak akan terlalu patah hati dan ada yang mau menghibur Mabruroh.

Seusai berbicara dengan Wico, Dwi pun pamit dan langsung menuju rumah Mabruroh.


*** Bersambung***  

2 komentar: