November 26, 2017
3
Gambar terkait


Sesampainya di rumah Mabruroh, Dwi melihat mata Mabruroh sembab seperti habis menangis semalaman. Tampang Mabruroh pun terlihat sangat kusut. Senyum manis yang selalu mengembang cantik di wajahnya, kini tidak nampak. Tanpa make up sedikitpun, aura kecantikan Mabruroh masih terlihat jelas. Wajahnya yang kusut dan tidak menggunakan make up sama sekali, Dwi kian yakin bahwa kondisi Mab sedang sedih.

Dwi tidak ingin membuat Mabruroh semakin larut dalam kesedihan, Dwi mengajak Mabruroh keluar rumah hanya sekedar makan dan nonton bioskop. Namun sayangnya, Mabruroh menolak ajakan Dwi. Dwi pun tidak mau menyerah dan berputus asa. Dwi tidak ingin melihat Mabruroh sedih berkepanjangan.
“Ayo dong Bu, temani saya nonton. Saya ingin sekali nonton bioskop. Ini saya sudah terlanjur membeli 2 buah tiket. Sayang kalau gak digunakan,” Dwi pun menunjukkan tiket yang sudah dibelinya.
“Untung saja aku tadi sempat mampir ke bioskop dan membeli tiket,” batin Dwi.

Mendengar ajakan Dwi yang bersungguh-sungguh, Mab pun tidak mau mengecewakan Dwi. Dengan terpaksa, Mabruroh pun menganggukkan kepalanya tanda Mab setuju menerima ajakan Dwi.
“Sebentar ya pak. Saya tinggal. Saya ganti baju dulu. Silahkan Bapak minum tehnya,”
 Mabruroh pun melangkahkan kaki ke kamar dan meninggalkan Dwi sendirian di ruang tamu.
***
Setelah ganti baju, dengan mengendarai Honda Jazz merah, Dwi dan Mabruroh pun bergegas menuju ke mall, tempat Dwi dan Mabruroh akan nonton bioskop. Sebelum nonton bioskop, Dwi memilih untuk makan dahulu.

Saat makan, Dwi masih melihat kesedihan terpancar di hati Mabruroh. Dwi berupaya untuk menghibur Mabruroh. Berbagai cerita lucu di ceritakan Dwi. Dwi hanya ingin Mabruroh tersenyum. Namun senyum dari bibir Mab, belum juga terlihat. Dwi hanya tidak ingin Mabruroh larut dalam kesedihan.

Dwi merasa cara ini gagal untuk membuat Mabruroh tersenyum. Jadwal tiket bioskop yang sudah dibeli Dwi masih kurang 2 jam lagi. Dwi pun berinisiatif mengajak Mabruroh  bermain di timezone.  

“Bu Mab, sebaiknya jangan terlalu larut dalam kesedihan. Sebelum kita ke bioskop. Kita masih ada waktu 2 jam. Main di timezone dulu yuk,” ajak Dwi.

Mabruroh tak punya pilihan untuk menolak ajakan Dwi. Mabruroh pun mengikuti langkah kaki Dwi berjalan ke arah  timezone. Dwi mencoba menghibur Mabruroh dengan cara apapun.

Selama bermain di timezone berbagai tingkah unik dan lucu, Dwi lakukan agar membuat Mabruroh tersenyum. Usaha Dwi tidak sia-sia. Dwi mulai melihat Mabruroh mengembangkan senyumannya meskpun hanya sebentar. Dwi pun semakin yakin kalau bisa membuat Mabruroh tersenyum.

Setelah bermain sepuasnya, Dwi dan Mabruroh berjalan ke arah bioskop. Waktu nonton bioskop kurang 30 menit lagi. Tanpa sengaja, Dwi dan Mabruruoh berpapasan dengan Winda dan Wico. Winda dan Wico terlihat sangat mesra. seolah tidak pernah terjadi permasalahan diantara mereka.

“Hai bu Mab, dan pak Dwi,” sapa Winda begitu melihat mereka.
“Hai juga bu Winda. Makin mesra aja nih Pak Wico,” ledek Pak Dwi.

Mendengar ucapan Dwi, wajah Winda dan Wico pun hanya tersenyum. Wico masih tetap erat mengenggam tangan Winda, seolah-olah tak mau melepaskan genggamnnya.

“Semoga lancar ya pak Wico dan Bu Winda. Ditunggu undangannya,” ucap Mabruroh sambil berusaha menutupi rasa sakit hatinya.

Saat di dalam bioskop, Dwi melihat air mata Mabruroh menetes. Dwi langsung mengambil sapu tangannya dari balik saku kantong bajunya.
“Sudalah bu. Sampai kapan Bu Mab begini terus. Masih banyak laki-laki baik diluar sana untuk Ibu. Pak Wico bukan orang baik dan tepat untuk Bu Mab,” ucap Dwi sambil menghapus air mata Mabruroh.
Mendengar ucapan Dwi tersebut, seolah Mabruroh tersadar dan Mabruroh mencoba tersenyum meski hanya sekilas.

***
Setelah selesai menyaksikkan bioskop, Dwi mengajak Mabruroh makan malam di tempat yang romantis dan berencana untuk mengungkapkan perasaannya ke Mabruroh. Dwi sudah menyiapkan semuanya. Dwi berharap perasaannya diterima Mabruroh. Sudah sejak lama, Dwi jatuh hati ke Mabruroh. Namun Dwi tahu saat itu Mabruroh sedang dekat dengan Wico. Alhasil Dwi juga tidak berani mengungkapkan perasannya. Namun, saat Dwi mengetahui bahwa hubungan Wico dan Mabruroh berakhir, Dwi pun mencoba untuk memberanikan diri mengungkapkan perasannya.

Ditemani alunan musik yang romantis, Dwi akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaanya.
“Bu Mabruroh, sejujurnya, sejak awal saya mengenal Ibu, saya sudah jatuh hati ke ibu. Namun, saya tidak berani mengungkapnya. Apalagi saat itu bu Mab sedang dekat dengan Pak Wico,”
“Bu Mab, maukah ibu menjadi calon istri saya?,”

Mendengar ucapan Dwi, membuat Mabruroh sangat terkejut. Mabruroh tidak tahu harus berkata apapun. Mabruroh hanya diam membisu dan tertunduk.
“Saya tidak mau memaksa Bu Mab, untuk memberi jawaban sekarang juga. Yang terpenting, ibu sudah tahu perasaan saya dan Ibu juga tahu masih ada yang sayang ke Ibu selain Pak Wico” ucap Dwi dengan bijak.


***  Bersambung***

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Belum mba. Jari-jariku masih melarang untuk mengakhirinya 😊

    BalasHapus