November 27, 2017
0
Gambar terkait


Saat jam istirahat, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Zen ketua OSIS SMA Merah Putih di kelasku. Saat Zen memasuki kelasku, semua mata terpana melihatnya. Semua teman sekelas membicarakan sosoknya yang tiba-tiba nonggol di kelas. Memang tidak dapat dipungkiri kalau Zen memiliki tampang yang keren, postur tubuhnya yang tinggi dan tegap ditambah lagi kulitnya yang putih membuat  semua cewek di SMA Merah Putih terpesona dan  berlomba untuk memperebutkan hatinya.

Perbincangan teman sekelasku kian heboh saat mengetaui kalau Zen datang ke kelasku untuk mencariku. Aku yang tengah asyik membaca buku, awalnya tidak memperhatikan Zen masuk. Bahkan, saat Zen menyebutkan namaku, aku masih tidak memperdulikannya. Aku pun mulai menyadari saat Zen menghampiri mejaku.

Teman-teman sekelasku menjadi rame. Mereka menduga kalau Zen akan mengungkapkan perasaannya kepadaku. Ternyata, dugaan mereka salah.
“Kamu Kristin kan? Dipanggil bu Mabruroh di ruang kepala sekolah,” ujar Zen datar.

Deg... Begitu mendengar ucapan Zen, hatiku serasa mau copot.
“ Ada apa bu Mabruroh memanggilku? Apa karena kejadian tiga hari lalu?,” batinku.
Aku pun masih belum beranjak dari tempat dudukku. Aku masih bengong dan kaget mendengar ucapan Zen. Melihat aku bengong, Zen pun kembali mengulangi kata-katanya untuk kedua kalinya.
“Ayo, sudah ditunggu bu Mabruroh sama pak Kepala Sekolah tuh,” ucap Zen dengan nada tinggi.

Dengan kebimbangan, dan langkah lemas, aku pun mengikuti langkah kaki Zen. Sesampai di depan ruang kepala sekolah, hatiku kian tak menentu. Zen pun langsung menyuruhku masuk dan meninggalkanku seorang diri.

Ruangan kepala sekolah kali ini ibarat rumah hantu dan bisa membuatku terkena serangan jantung mendadak. Padahal, ini bukan pertama kalinya aku memasuki ruangan Kepala Sekolah. Sejak duduk di bangku SMA Merah putih, ini sudah keempat kalinya aku memasuki ruangan yang bercat warna biru ini.

Tok...tok...
Permisi pak..

“Masuk Kris,” suara keras pak Tian  membuatku makin ketakutan.

Dengan langkah gontai, aku pun memberanikan diri memasuki ruangan Pak Tian. Rupanya, tidak hanya ada Pak Tian dan Bu Mabruroh tapi juga ada Pak Dwi. Hatiku makin tak karuan dibuatnya.
“Duduk kris,”

Aku pun langsung duduk di kursi kosong tepat di samping bu Mab.
“Ada apa pak Tian,” tanyaku sambil terbata-bata.
“Begini Kris, cerpen pak Dwi kan terpilih di event publisher, karena itu kami memilih Pak Dwi untuk membimbingmu supaya ikut event jejak publisher tentang kisah di sekolah, dan lomba menulis fiksi,” ucap Bu Mabruroh.

“Betul itu Kris, kami melihat kamu anak yang pintar dan cerdas. Kalau kamu menang, kan lumayan hadiahnya buat tambahan tabunganmu,” tambah Pak Tian.

Ucapan Bu Mabruroh membuatku bernapas lega. Apa yang aku kuatirkan tidak terjadi. Aku takut kejadian di rumah tiga hari lalu akan berdampak pada kelangsungan hidupku di sekolah ini.


“Saya tidak tahu, bagaimana membalas budi Pak Tian, Bu Mabruroh dan Pak Dwi. Saya akan mencoba membuat cerpennya malam ini, dan besok akan saya tunjukkan ke Pak Dwi. Mohon doanya agar saya menang,” ucapku dengan penuh keyakinan. 

0 komentar:

Posting Komentar