SOCIAL MEDIA

Rabu, 15 November 2017

Guruku, Ayah Tiriku (2)

Gambar terkait

Tak terasa sudah hampir satu bulan aku bersekolah di SMA Merah Putih. SMA Merah Putih terbilang salah satu sekolah yang elit dan berkelas. Memiliki luas hampir 2 hektar, membuat sekolah ini juga termasuk jajaran sekolah yang besar.

Suasana kelas Xa yang biasanya gaduh, kini berubah menjadi suasana yang sunyi senyap. Seolah kelas tidak berpenghuni. Wajah tegang terpampang jelas di wajah satu persatu murid SMA Merah Putih. Ketegangan bukan karena siswa kelas Xa sedang menghadapi ulangan. Namun karena Pak Wico, guru mata pelajaran Sejarah sudah memasuki kelas Xa.

Pak Wico memang seorang guru yang terkenal killer di SMA Merah Putih. Tampangnya yang terlihat galak membuat Pak Wico makin disegani dan ditakuti di SMA Merah Putih. Dibalik sikapnya yang killer, Pak Wico mempunyai sifat yang baik dan taat beribadah.

Kebaikkan Pak Wico itupun juga diketahui hampir semua murid di SMA Merah Putih. Bagiku Pak Wico merupakan sosok guru yang sangat bijaksana. Saat berada di kelas, Pak Wico memang terkenal galak dan killer. Namun, begitu jam pelajaran berakhir, Pak Wico menjadi sosok guru yang baik, ramah dan bijaksana. Sikapnya diketahui hampir semua teman sekalasku. Pasalnya, Pak Wico menjadi wali kelasku.

“Tugas segera kumpulkan di meja saya,”
Suara tegas dan keras Pak Wico langsung memecah keheningan kelas X saat itu.

Tanpa ada yang memberi komando, Dinda sang ketua kelas secara reflek langsung berdiri dan mengambil satu persatu buku teman-teman sekelasku. Seusai mengambil buku tugas, Dinda langsung menaruhnya di meja Pak Wico.

“Sambil mengoreksi tugas kalian, sekarang kalian pelajari bab 2 tentang kependudukan Jepang,” perintah Pak Wico.

Suasana kelas kembali hening. Tidak ada suara sama sekali. Jangankan suara teman sekelasku yang berbisik, nyamuk pun enggan berbunyi.

“Dani, mana tugasnya? Segera kumpulkan di meja saya,” bentak Pak Wico.

“Maaf  pak. Saya belum  mengerjakannya, “ ujar Dani terbata-bata.

“Segera berdiri di depan kelas sampai jam saya berakhir,” bentak Pak Wico kembali.

Dari pertama kali mengajar, Pak Wico sudah mengatakan kalau tidak menerima alasan apapun bagi yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Hukuman berdiri di depan kelas pasti diberikan pak Wico bagi yang tidak mengerjakan PR.

Setelah Dani berdiri di depan kelas, Pak Wico pun kembali melanjutkan pelajaran.

Teeeet.... Teeet......

Bunyi suara bel pulang berbunyi, pertanda jam pelajaran Pak Wico berakhir.
Rupanya bunyi bel sekolah tidak membuat Pak Wico segera mengakhiri pelajarannya.

“Dani masuk kelas,” panggil Pak Wico.

Tanpa banyak bicara, Dani pun langsung masuk kelas.

“Sebelum saya akhiri, sekarang kalian catat tugas untuk besok,” perintah Pak Wico.

 “Dani, sekali lagi kamu tidak mengerjakan PR, kedua orang tuamu akan saya panggil ke sekolah,” ancam Pak Wico.

“Iya Pak. Saya janji, akan saya kerjakan tugas dari Bapak,” jawab Dani sambil tertunduk.

“Baik, sudah dicatat semua kan tugas untuk besok?,” tanya Pak Wico.
“Sudah,” jawab kami kompak.
“Dinda, ini ada surat undangan rapat wali murid Sabtu besok. Tolong dibagikan sekarang,” perintah Pak Wico.

Dinda pun langsung berdiri dan membagikan surat undangan rapat.

“Sebelum kalian pulang, mari kita berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing,”

“Sampai ketemu besok dan langsung pulang ya. Hati-hati selama di perjalanan,” tutup Pak Wico.

Tampak jelas kelegaan di wajah teman sekelasku. Ucapan pak Wico bagaikan 
oase di padang pasir

“Dani, kenapa kamu sampai tidak mengerjakan tugas sih. Liat tuh pak Wico sampai menghukummu,” tanyaku kepada sahabatku.

“Iya nih Kris, semalam aku ketiduran. Tadi pagi mau nyontek punyamu, tapi kayaknya gak bakal dikasih contekan deh,” kelakar Dani.
“Sudah ah, bercanda mulu. Yuk pulang. Anterin ya,” rengekku pada sahabatku sejak SMP ini.
***
Untuk menghindari stress karena habis dihukum Pak Wico, Dani pun mengajakku pergi jalan-jalan ke suatu mall. Dani mengajakku Windows shopping lebih tepatnya.  Hampir semua toko sepatu dimasuki Dani. Namun, tak ada satu pun sepatu yang cocok di hati Dani. Padahal Dani seorang cowok yang suka main bola.

Saat memasuki toko sepatu terakhir, pandangan mataku langsung tertuju pada sebuah rak yang ada di bagian pojok toko itu. Sepasang sepatu olahraga berwarna biru muda dengan garis putih langsung membuatku jatuh hati. Akupun memutuskan untuk mencoba sepatu tersebut sambil bolak balik di depan kaca dengan menggenakan sepatu itu.

Ingin rasa hatiku untuk membeli sepatu itu. Bayangan saat olahraga mengenakan sepatu itu nampak jelas di mataku.

“Aku pasti tampak keren saat mengenakan sepatu ini nanti,” batinku.
Namun apa dikata, harganya sangat mahal. Kalau aku tetap memaksa membelinya, itu sama saja akan membuat bundaku sedih dan kecewa.

Aku pun memutuskan untuk menaruh kembali sepatu itu di raknya. Tanpa sepengetahuan Dani, aku pun bergegas keluar dari toko sepatu itu, dan aku menunggu Dani di depan toko sepatu.

“Kenapa kamu buru-buru keluar,” tanya Dani.

“Tak apa-apa,” jawabku singkat sambil menutupi kesedihanku.
“Keren banget. Sekali belanja, kamu langsung beli 3 pasang sepatu,” ujarku sambil meledek Dani.
“Suka-suka dong,” jawab Dani sambil menjulurkan lidahnya. Seakan mengejekku.

Setelah puas berbelanja dan makan, akhirnya Aku dan Dani pun  langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, aku hanya diam membisu masih membayangkan sepatu yang aku suka di toko tadi.

“Bengong mulu. Kamu ambil deh dua kardus sepatu di jok belakang. Lalu kamu buka yang kardusnya warna biru,” ucapan Dani membuyarkan lamunanku.

Tanpa banyak bicara, aku pun langsung mengambil dua kardus sepatu yang di katakan Dani, dan membuka kardus sepatu yang warna biru.

“Itu kan sepatu yang kamu incar tadi. Aku dari tadi perhatikan kamu kelihatan suka sekali dengan sepatu itu. Akhirnya, aku belikan sepatu itu untuk kamu, dan satunya buat Heco adikmu,”  

“Tapi Dan....,”

“Tidak ada kata tapi. Sudah terlanjur aku belikan buatmu dan Heco. Pokoknya saat pelajaran olahraga nanti, kamu harus pakai sepatu itu. Aku juga berharap Heco suka dengan sepatu yang aku belikan,”

“Ya sudah. Terima kasih,” jawabku singkat tanpa tau harus berkata apapun.



 *** Bersambung****

2 komentar :