Guruku, Ayah Tiriku (3) - Sang Mentari

Breaking

Sang Mentari

Personal & Life Style Blog

Conected

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 17 November 2017

Guruku, Ayah Tiriku (3)


Gambar terkait


Seperti biasa, seusai makan malam, kami selalu duduk bertiga. Bercerita tentang apapun yang sudah dilewatkan seharian. Bahkan seringkali dijadikan ajang untuk bermanja dengan bundaku. Termasuk juga Heco. Meski Heco sudah kelas 5 SD, tetapi sikap manjanya seperti anak kecil. Selalu ada saja tingkahnya yang membuat aku dan bundaku tertawa.

Heco memiliki wajah yang terbilang mirip sama ayah. Matanya yang bulat besar, pipinya yang chubby ditambah lagi             postur tubuhnya yang bongsor. Semakin terlihat kalau Heco sangat mirip ayah.

Meskipun sejak lahir Heco tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah, tetapi Heco tidak pernah murung dan sedih. Sifatnya yang periang membuat orang-orang yang berada di dekatnya tersenyum.

Kami berdua sama sekali tidak merasa kehilangan figur seorang ayah. Aku dan Heco mendapatkan figur seorang ayah, dari pakdeku (Sebutan untuk kakak laki-laki dari Bunda). Hampir setiap weekend, aku, dan Heco menginap di rumah pakde. Setiap jumat malam, pakde selalu menjemput kami berdua untuk menginap di rumahnya. Tak jarang Bunda juga selalu ikut menginap di rumah Pakde.

Aku terbilang anak yang beruntung dibanding Heco. Hampir 5 tahun aku mendapatkan kasih sayang dari ayah, sedangkan Heco, sejak lahir, sama sekali tidak pernah melihat wajah ayah. Ayah lebih memilih selingkuhannya saat Bunda sedang mengandung Heco.

Saat kecil aku masih sering bertanya ke Bunda keberadaan ayah. Namun, akhirnya aku tahu bahwa ayah sudah meninggalkan Aku, Bunda dan Heco demi wanita selingkuhannya.

Ketika sedang asyik ngobrol dengan Bunda dan Heco, aku tiba-tiba teringat bahwa tadi siang sebelum pulang sekolah Pak Wico membagikan surat undangan rapat wali murid, dan sepatu buat Heco belum aku berikan.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berjalan ke kamar, mengambil surat undangan dan sepatu. 
“Bunda, ini ada surat dari sekolahku. undangan rapat wali murid,” ucapku
Bunda langsung mengambil dan membaca undangan dari sekolahku.
“Bunda usahakan ya sayang, sabtu besok datang ke sekolah Kristin,” jawab bunda sedikit melegakan hatiku.
 “Bagaimana dengan sekolah sayangmu, ada masalah?” tanya bunda
“Insha Allah gak ada bunda. Kristin janji akan memberikan yang terbaik buat Bunda. Kristin tidak mau mengecewakan Bunda,” ucapku sambil meyakinkan Bunda
“Iya sayang, Bunda percaya sama Kristin. Bunda yakin, kelak Kristin dan Heco akan jadi anak yang sukses,”

Setelah memberikan surat undangan rapat ke Bunda, aku langsung memberikan sepatu buat Heco. Setelah menerima sepatu, wajah Heco sangat gembira. Heco langsung membuka kardusnya dan mencobanya.

Namun, Bunda kebingungan dapat uang darimana aku bisa membelikan Heco sepatu. Sebelum Bunda bertanya lebih lanjut mengenai sepatu tersebut, aku pun menceritakan asal muasal sepatu baruku dan sepatu buat Heco. Begitu mendengar penjelasanku, terlihat senyuman mengembang di bibir Bunda.

Tak terasa, jam di ruang tengah berdentang 8 kali. Itu pertanda jarum jam sudah menunjukkan jam 8 malam. Itu berarti, saatnya aku masuk ke kamar dan belajar. Setiap malam sebelum tidur, aku memang selalu membiasakan diri untuk belajar.

“Bun, aku ke kamar dulu ya. Mau belajar,”
“Heco ada PR gak,” tanyaku sebelum meninggalkan ruang tengah.
“Gak ada,”
Mendengar jawaban Heco membuat hatiku lega. Itu artinya aku bisa belajar lebih lama. Meski besok tidak ada ulangan ataupun tidak ada PR, sejak kecil aku memang sudah terbiasa belajar untuk pelajaran esok hari. Aku tidak ingin nilaiku jelek, apalagi sampai beasiswaku di SMA Merah Putih di cabut.

Tanpa banyak berpikir, aku langsung melangkahkan kaki ke dapur. Kali ini pilihanku jatuh pada cokelat panas. Akupun langsung memasak air. Kebiasaanku setiap belajar, selalu membuat minuman hangat. Entah itu teh hangat, kopi, susu atapun cokelat panas.

Setelah secangkir cokelat panas sudah tersedia, aku pun langsung menuju ke kamar. Tak ketinggalan membawa segelas air putih.

Di temani secangkir coklat panas, aku pun mulai belajar. Sebelum mulai membaca pelajaran besok, aku pun memulainya dengan mengecek kembali apa ada pekerjaan rumah yang terlewatkan.

Dari kamarku, masih jelas terdengar suara tertawa Bunda dan Heco. Heco bercerita kejadian hari ini di sekolah. Sebenarnya aku masih ingin bergabung dengan mereka. Tapi, aku benar-benar tidak mau beasiswaku di cabut.

 “Alhamdulillah PR buat besok sudah aku selesaikan. Saatnya aku belajar pelajaran besok,” batinku

Jarum jam menunjukkan jam 9 malam. Suara candaan Bunda dan Heco berganti dengan sepi dan senyap. Aku menebak, kalau itu artinya Bunda sudah menyuruh Heco untuk tidur. 

Saat asyik belajar, tiba-tiba Bunda datang masuk ke kamar.
“Belajar apa sayang,” tanya Bunda.
“Lagi coba kerjakan soal matematika Bunda. Biar besok waktu di sekolah, aku sudah paham,”
“Bunda ganggu ga sayang?,” tanya Bunda kembali.
“Gak kok. Ada apa emang Bunda?,” jawabku penasaran. Karena tidak seperti biasa Bunda ngomong serius seperti ini. Aku mencoba menebak arah maksud pembicaraan Bunda.

Dalam hati aku bertanya apa Bunda mempermasalahkan sepatu yang dibelikan Dani. Ternyata benar dugaanku. Bunda bertanya mengenai sepatu yang dibelikan Dani dan hubunganku dengan Dani.

“Bunda tenang saja, Kris dan Dani tidak ada hubungan apapun kok. Kami sudah komitmen. Kalau hubungan kita hanya teman. Aku tidak mau nilaiku jelek dan membuat Bunda kecewa,” akupun mencoba meyakinkan Bunda.

Mendengar jawabanku itu bunda tersenyum lega.
“Ya sudah. Bunda percaya kok sama Kristin. Jangan tidur malam-malam ya sayang,” jawab Bunda.


Bunda pun langsung pergi meninggalkan kamarku, dan aku kembali melanjutkan belajar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here