SOCIAL MEDIA

Jumat, 17 November 2017

Guruku, Ayah Tiriku (4)

Gambar terkait


Setiap sabtu pagi, kalau aku tidak ke rumah Pakde, biasanya kuhabiskan waktu dirumah seharian. Entah hanya sekedar menonton VCD, merapikan kamar ataupun mencuci dan setrika baju. Tapi, tidak berlaku untuk sabtu ini. Pasalnya aku harus menemani Bunda ke sekolah.

Dengan mengenakan celana jeans yang aku padu padankan dengan kemeja warna biru dan sepatu sport yang dibelikan Dani beberapa hari lalu, aku siap berangkat ke sekolah. Aku memilih kemeja warna biru, lantaran ingin tampil senada dengan Bunda.

Dengan make up tipis, Bunda terlihat cantik. Bunda ke sekolah memilih menggunakan gamis polos berwarna biru muda yang Bunda pesan di Tsaufa Hijab milik Tante Risa, bulan lalu. Saat itu Bunda dan aku memesan gamis yang sama untuk menghadiri pernikahan kakak sepupuku. Meski aku masih remaja, gamis buatan Tante Risa itu tidak membuat penampilanku nampak seperti orang tua. Bahkan gamis Tsaufa Hijab modelnya cocok  buat segala usia.

Jujur, aku akui, gamis buatan tante Risa memang keren banget. Harganya yang ramah di kantong, model yang kekinian dan motif yang tidak pasaran, alhasil membuat koleksi Tsaufa Hijab limited edition dan banyak digemari. 

Setelah aku dan Bunda siap pergi ke SMA Merah Putih, Bunda pun langsung memesan taxi online.

Sesampainya di sekolah, aku langsung mengantar Bunda ke ruang rapat, dan aku langsung menuju ke kantin. Biar tidak bete di sekolah menunggu Bunda selesai rapat, aku pun menghabiskan waktu bermain game di ponsel kesayanganku. Tak lupa aku pesan segelas jeruk hangat.

“Hai Kris, kapan datang,” tanya Dani membuatku kaget.
“Hai Dan, 10 menit yang lalu. Kamu sama siapa ke sekolah?,”  tanyaku kembali
“Sama Mamaku. Oh iya, maaf ya. Tadi aku tidak menjemputmu. Untuk menebus kesalahanku, kamu pesan makan sesukamu. Nanti aku yang bayar,”
“Santai aja Dan. Kan kita sama orang tua. Lagian aku juga gak enak sama mamamu,”
“Bawel deh.  Buruan, mau pesan makan apa. Masak sampe jam 12, kamu cuma minum jeruk hangat aja,” ujar Dani sambil mengacak-acak rambutku
“Iya Dani, tapi kan gak perlu mengacak-acak rambutku,” jawabku sambil kesel.

Tanpa mendengarkan gerutuanku, Dani langsung berjalan meninggalkanku dan memesan dua porsi ayam geprek.
“Nih, ayam geprek. Sarapan dulu deh,” ujar sambil menyodorkan satu prosi ayam geprek.

Seolah tak punya pilihan lagi, akhirnya akupun mengambil ayam geprek dan langsung memakannya.

Dalam hati aku akui, Dani memang sahabat yang paling mengerti. Tanpa banyak bicara, aku langsung memakan ayam geprek yang dibelikan Dani. Apalagi perutku juga mulai bernyanyi, minta diisi. Tadi pagi sebelum berangkat aku memang tidak sarapan. Padahal Bunda sudah menyiapkan sarapan buatku.

Kalau di kantin, aku paling senang makan ayam geprek mak Lani. Bagiku yang kantongnya pas-pasan, harga ayam geprek Mak Lani terbilang murah, dan porsinya juga mantap. Rasa ayamnya yang enak, ditambah lagi sambalnya yang pedas dan pas di lidah membuatku selalu ketagihan.
Tidak hanya aku saja, teman-teman sekelas juga sangat menyukai ayam geprek Mak Lani. Pernah saat itu aku beli ayam geprek Mak Lani dan aku bawa pulang, eh ternyata Bunda dan Heco sangat menyukai ayam geprek Mak Lani.  

Ayam Geprek di hadapanku belum selesai aku makan, tiba-tiba sudah ada kentang goreng yang disajikan di depan mata. Aku sih sudah hafal dengan kelakuan Dani, makanya aku ga pernah protes dengan kelakuan Dani.

Berselang 15 menit kemudian, Mak Lani datang menghampiriku dan memberikan 3 bungkus ayam geprek. Antara bingung dan heran, aku tidak menerima 3 bungkus ayam geprek tersebut.
“Sudah aku bayar kok. Kamu ambil dan bawa pulang. Buat Heco,” ujar Dani ketika melihatku kebingungan.

Semakin siang, teman sekelasku semakin banyak yang berdatangan ke kantin. Canda tawa diantara kami pun kian hangat. Hari ini merupakan hari yang belum pernah terjadi. Selama dua minggu aku bersekolah di SMA Merah Putih, baru kali ini bisa mengobrol dan bercanda lepas. Setiap hari kami disibukkan dengan pelajaran sekolah. Kalaupun jam istirahat tiba, kami hanya sempat makan bersama. Bagi kami, bisa bercanda dan berkumpul seperti ini suatu hal yang menggembirakan.
Siang ini kita tidak hanya bercanda, tetapi ada kami pun sempat membicarakan topik yang sedang hangat diperbincangkan, mulai soal gosip artis hijab hingga seorang politisi yang kecelakaan karena menabrak tiang listrik.

Suasana ini membuatku semakin bangga dan bersyukur bisa masuk di SMA Merah Putih. Rasa solidaritas dan kekeluargaan di kelas  Xa, terasa sangat kental sekali.  

Saat asyik ngobrol bersama teman-teman, Nilna tiba-tiba menghampiriku dan memintaku untuk menemaninya ke toilet. Padahal, biasanya setiap ke toilet, Nilna tidak pernah minta aku temani. Dalam hati aku yakin pasti ada yang mau dibicarakan Nilna. Tanpa pikir panjang, akupun mengiyakan ajakan Nilna. 

“Kris, bagaimana surat yang aku titipkan buatmu untuk Dani,” tanya Nilna sambil berjalan menuju toilet.
“Oh, jadi ini yang mau ditanyakan  Nilna,” batinku.
“Suratnya sudah aku berikan ke Dani,” jawabku singkat.

Mendengar jawabanku itu rupanya Nilna masih belum puas. Berbagai pertanyaan pun dilontarkan Nilna kepadaku. Aku bingung harus menjawab apa soal pertanyaan Nilna ini. Padahal aku sudah mengetahui jawaban Dani soal surat Nilna. Aku hanya tidak mau membuat Nilna kecewa dan sedih.

“Nanti aku ingatkan Dani soal suratmu itu ya,” janjiku pada Nilna. 

2 komentar :