SOCIAL MEDIA

Sabtu, 18 November 2017

Guruku, Ayah Tiriku (5)

Gambar terkait




Selesai dari toilet, aku gak mau membuang waktu lebih lama. Aku gak mau membuat perasaan Nilna cemas dan gelisah. Dani yang asyik ngobrol sama teman-teman langsung aku tarik tangannya dan mengajak Dani ngobrol.
“Dan, tolong temani aku beli Sarkijoo donk,” pintaku kepada Dani.

Seakan Dani tau maksudku,  Dani pun langsung menghampiri dan menemaniku beli Sarkijoo. Setelah menjauh dari teman-teman aku pun langsung menyampaikan pesan Nilna tadi sewaktu jalan ke toilet.

“Kris, kamu kan sudah tahu jawabanku. Kenapa gak kamu sampaikan aja?
“Dan, gak etis rasanya aku sampaikan jawabanmu itu. Nanti dikira aku yang mengada-ada. Mending kamu aja yang menyampaikan langsung ke Nilna,”
“Iya deh. Tunggu saatnya, aku akan mengatakan ke Nilna,”
“Jangan kelamaan pokoknya. Aku gak mau Nilna nanya lagi,” protesku.
“Iya.. dasar bawel,”

Setelah menyampaikan pesan Nilna, aku dan Dani pun kembali ke kantin. Biar tidak mencolok dengan teman-teman, Dani pun sengaja membeli Sarkijoo lebih.

***
Tepat pukul 12.00 rapat wali murid selesai. Aku dan Bunda pun bergegas pulang dan memesan taksi online. Namun, entah mengapa dari tadi Bunda kesulitan mendapatkan taxi online. Sekolah pun mulai sepi. Akhirnya aku dan  Bunda memutuskan untuk naik taksi biasa. Tidak hanya taksi online, taksi biasa pun tak juga menampakkan kehadirannya.

Saat aku menunggu di depan gerbang sekolah, Pak Wakhid, satpam di SMA Merah Putih, menghampiri kami, dan Pak Wakhid menyuruh untuk menunggu di dalam gerbang. Pak Wakhid akan membantu mencari taksi. Apalagi saat itu langit terlihat gelap, seakan hujan tak lama lagi mengguyur  

Rupanya benar tebakan Pak Wakhid. Saat meminta aku dan Bunda masuk untuk berteduh di dalam, Pak Wakhid sempat mengatakan kalau hujan akan turun. Sesampainya di dalam gerbang, hujan mulai turun.

“Alhamdulillah sudah berteduh,” batinku.

Tak lama setelah aku berteduh, aku melihat sosok tubuh yang sangat aku kenal. Rupanya Pak Wico berjalan ke arah kami. Kebetulan kami berdiri tepat di samping mobil Pak Wico. Setelah jarak pak Wico, aku pun menyapa.
“Pulang Pak?” tanyaku.
“Iya Kris,” jawab Pak Wico singkat. Tapi tiba-tiba mata Pak Wico memandang Bunda. Tatapan mata Pak Wico sangat aneh. Tidak pernah sebelumnya aku melihat tatapan Pak Wico seperti itu.

“Mamanya Kristin ya Bu? Perkenalkan saya Wico, wali kelas Kristin,” ujar Pak Wico sambil mengulurkan tangannya.
“Iya Pak Wico, saya mamanya Kristin. Nama saya Winda. Senang berkenalan dengan Bapak, “jawab Bunda sambil membalas uluran tangan Pak Wico.
“Rumahnya di daeraih Waru kan? Kebetulan rumah saya juga daerah sana. Kalau mau bisa bareng sama saya. Jika sudah turun hujan, disini taksi akan susah,” Pak Wico menawarkan jasanya. Taksi online pun sinyal juga pasti susah,”
“Nanti merepotkan Bapak lho?,”
“Saya gak merasa direpotkan kok Bu. Ayo bareng sama saya aja,”

Hujan turun semakin deras. Seolah tidak ada pilihan dan tidak enak hati menolak tawaran Pak Wico, akhirnya aku dan Bunda pun pulang bersama dengan Pak Wico. Dalam perjalanan pulang, terlihat Bunda dan Pak Wico asyik mengobrol. Entah apa saja yang dibicarakan antara Bunda dan Pak Wico. Aku tidak perduli. Aku asyik dengan telepon genggamku.

Sesampainya di rumah, sebagai balas budi Bunda ke Pak Wico, Bunda pun menawarkan Pak Wico masuk ke dalam rumah, dan mengajak makan siang.
“Maaf saya tinggal sholat dhuhur dulu sebentar ya Pak Wico,”
“Silahkan Bu,”

Seusai aku dan Bunda sholat Dhuhur, kami berempat pun makan siang bersama. Sambil makan, Pak Wico bercerita soal aku selama di sekolah. Bahkan, tak ragu Pak Wico memujiku sebagai anak yang pintar. Pujian dari Pak Wico membuatku malu, dan tidak bisa berkata apapun. Namun, untungnya makan siang kami sudah berakhir. Aku dan Heco pun membersihkan meja makan dan Bunda menemani Pak Wico ngobrol.

Setelah selesai membersihkan meja, aku mengintip dari balik pintu. Terlihat  Bunda dan Pak Wico kian akrab. Aku tidak tau pembicaraan apa yang sedang terjadi diantara Pak Wico dan Bunda. Namun, pembicaraan itu terhenti saat terdengar adzan Ashar, dan Pak Wico pun ijin pamit pulang.

***
Malam minggu kali ini, Aku, Bunda dan Heco memutuskan untuk makan bersama di Mochi Maco Cafe. Maklum, Bunda sudah gajian. Selain itu, aku dan Heco seringsekali diiming-imingi Bunda menu andalan Mochi Maco Cafe. Bunda selalu bilang, nanti bisa mabok durian. Membayangkan rasanya mabok durian sudah membuatku tergoda. Makanya, aku meminta Bunda saat Bunda sudah gajian untuk mentraktir di kafe tersebut
Sambil menunggu pesanan datang, kami pun bercanda seperti biasanya. Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya menghampiri kami.
“Hai Winda,” sapa wanita itu.
“Halo Didin. Kenalkan nih anakku Kristin dan Heco,”
“Wah, cantik dan ganteng anakmu,”
“Terima kasih tante,” aku dan Heco menjawab dengan kompak.

Tak lama kemudian, datanglah menu andalan kafe tante Didin. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menyantap menu es  mabok duren. Rasanya aku akui memang benar-benar nikmat. Duriannya benar sangat terasa. Aku pun sampai menghabiskan 2 porsi es mabok durian.

***Bersambung***


2 komentar :