SOCIAL MEDIA

Minggu, 19 November 2017

Guruku, Ayah Tiriku (6)


Gambar terkait



Sejak aku dan Bunda menumpang mobil Pak Wico, aku mulai merasa ada yang berbeda. Setiap ketemu di luar kelas, seakan Pak Wico mencoba untuk bersikap baik kepadaku. Pak Wico selalu memperhatikanku. Bahkan tak jarang pak Wico membelikan aku makan siang. Padahal, sebelumnya pak Wico tidak pernah berbuat seperti itu kepadaku maupun kepada teman-temanku.

Hari ini ada jadwal Pak Wico mengajar di kelasku. Entah mengapa sikap Pak Wico tidak segalak biasanya. Pak Wico terlihat murah senyum. Bahkan tak jarang bercanda dengan teman-teman. Hingga jam pelajaran berakhirpun Pak Wico masih terlihat berbeda. Aku merasa keganjilan yang luar biasa terhadap sikap Pak Wico.
“Kris, kenapa ya pak Wico hari ini sikapnya berbeda,” tanya Isnaini teman sebangkuku.
 “Gak tahu tuh Is, belakangan ini sikap Pak Wico kepadaku juga mulai berubah,” jawabku masih dipenuhi kebimbangan.
“Sudahlah, yuk kita ke kantin, aku lapar nih,”

Belum sempat aku keluar dari kelas, Sovia, kakak kelas XI tiba-tiba masuk ke kelas dan menemuiku sambil membawa sebungkus nasi ayam geprek.
“Kristin ya?. Ini ada ayam geprek. Tadi Mak Lani minta tolong memberikan kepadamu,”

Aku benar-benar dilanda kebingungan. Mau aku  tolak, takut mba Sovia tersinggung. Akhirnya, ayam geprek itu aku ambil dan aku tetap melangkahkan kaki ke kantin menemui Mak Lani.

Sesampainya di kantin, aku langsung menemui mak Lani dan bertanya mengenai ayam geprek yang dititipkan mba Sovia. Aku merasa mak Lani sedang menyembunyikan sesuatu. Mak Lani hanya menyuruhku makan saja.

Jawaban Mak Lani tentu saja masih membuatku bingung. Namun, aku tidak mau membuat Mak Lani kecewa. Ayam geprek aku makan juga di kantin sambil ditemani Isnaini. Sebelum memakan ayam geprek misterius tersebut, aku pun tak lupa memesan es jeruk hangat.  

Untuk menghilangkan kebimbangan yang ada, iseng-iseng aku membuka telepon gengamku. Instagram aku di tag oleh Dina, salah satu temanku saat aku nonton konser. Dina menginformasikan ada kuis dari @sheilagankid untuk mendapatkan satu buah tiket gratis konser 5upergroup.concert Syaratnya hanya cukup repost dan like yang terbanyak berhak mendapatkan tiket tersebut.

Jujur saja, aku berharap bisa menyaksikkan konser yang akan diselenggarakan 21 November di JCC mendatang  dan menghadirkan 5 band papan atas, Kahitna, SO7, Gigi, Godbless dan Krakatau tersebut. Bagiku yang sangat gemar nonton konser, konser tersebut terbilang sangat langka. Ingin rasanya membeli tiket tersebut. Namun, aku gak enak minta uang ke Bunda hanya untuk beli tiket.

Akhirnya niatku membeli tiket tersebut aku batalkan. Setiap ada kuis yang tentang acara tersebut aku mencoba ikutan. Rupanya nasib baik belum berpihak padaku.

Kuis ini sepertinya kesempatan terakhir untuk aku bisa nonton konser tersebut, tanpa pikir panjang, aku pun langsung repost informasi yang ada di Instagram meminta bantuan ke teman-teman untuk me- like status aku.
“Semoga aku bisa nonton konser itu,” pintaku

***
Hari ini cucian baju menggunung, aku pun memutuskan untuk tidak menginap di rumah Pakde. Rupanya melihat cucian segunung, Heco pun ikutan juga untuk tidak menginap di rumah pakde.
Saat aku asyik nonton televisi, tiba-tiba, terdengar pintu rumah ada yang mengetuk. Aku yang berada di dekat pintu, langsung berdiri membuka pintu. Saat aku buka pintu, terlihat Pak Wico berdiri di depanku.
“Bunda ada Kris,” pertanyaan pak Wico membuatku tersadar.
“Ada pak. Silahkan masuk.” Jawabku sambil mempersilahkan Pak Wico masuk.

Setelah Pak Wico duduk di ruang tamu, Aku pun memanggil Bunda. Terlihat jelas wajah Bunda sangat kaget ada Pak Wico datang ke rumah. Begitu Bunda duduk di ruang tamu, aku langsung masuk dan membuat minuman buat Bunda dan Pak Wico.
“Silahkan diminum pak,” ucapku sambil mempersilahkan Pak Wico minum teh hangat buatanku.
“Terima kasih Kris. Bapak  ingin bicara dengan Bundamu sebentar ya,”

Aku tahu apa maksud dari perkataan Pak Wico tersebut. Aku pun langsung masuk ke dalam ruang tengah dan tidak mau  aku mendengar pembicaraan antara Pak Wico dan Bunda.

Sesuai perkataan Pak Wico tadi, Pak Wico pun berbicara dengan Bunda tidak terlalu lama. Mereka berdua hanya ngobrol selama 30 menit. Namun aku yakin ada pembicaraan penting yang terjadi antara Bunda dan Pak Wico.

Setelah Pak Wico pulang, aku berharap Bunda mau bercerita mengenai maksud dan tujuan Pak Wico datang ke rumah. Namun, Bunda hanya diam membisu dan masuk ke dalam kamar.

***

Sejak kehadiran Pak Wico di rumah, aku merasa sikap Bunda mulai berubah. Bunda yang  biasanya tidak pernah mau memegang HP saat di rumah, kini kemana-mana selalu memegang HP. 

Tidak hanya itu saja, belakangan ini seakan perhatian Bunda agak berkurang. Aku tidak mau membuat Bunda kecewa dengan aku ikut campur urusan Bunda. Aku berpikir, mungkin kini sudah saatnya Bunda mendapatkan pengganti ayah. Hampir 10 tahun Bunda hidup seorang diri dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan aku dan Heco.


“Apa Bunda sedang jatuh cinta? Memang sudah saatnya Bunda bahagia,” batinku.

***Bersambung***


Tidak ada komentar :

Posting Komentar