November 21, 2017
1
Gambar terkait




Sosok Wico yang baik, penyayang membuat Winda pun mulai tertarik pada Wico. Profesi Wico yang sebagai guru, membuat Wico memiliki sifat yang bijaksana dan arif. Tidak hanya itu, Wico juga mempunyai ketaatan dalam hal beribadah. Itu semua membuat nilai plus Wico di mata Winda. Apalagi Wico mempunyai suara yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan Kris, Winda dan Wico pun menjalin komunikasi. Setiap malam Winda dan Wico berkomunikasi via telepon. Sudah tidak ada panggilan Bapak atau Ibu diantara mereka. Mereka sudah mulai akrab. Winda sudah mulai memanggil Wico dengan sebutan mas, dan Wico memanggil Winda dengan sebutan dik. .

Tidak hanya komunikasi via telepon, Wico sering kali menjemput Winda di kerjaannya. Itu semua dilakukan Winda dan Wico tanpa sepengatahuan Kris.

Hubungan Winda dan Wico pun akrab. Tidak hanya sekedar Wico menjemput Winda di kerjannya, Winda pun seringkali pulang hingga larut malam. Meski itu sekedar makan bersama ataupun berdiam diri di rumah Wico.

***
“Ada apa ya Bunda belakangan ini pulang
larut malam,” tanyaku kepada Dani dalam perjalanan ke sekolah.
“Kamu sudah nanya Bunda belum?. Mungkin Bunda sedang banyak kerjaan,”.
“Iya  sih,” jawabku singkat sambil pikiranku tak tahu arah.


Tak terasa, akhirnya kami pun sampai di sekolah. Namun, aku tak menyadarinya. Tiba-tiba Dani membuatku kaget dan tersadar dari lamunanku.
“Sudah sampe nih. Bengong mulu,” Dani sambil menepuk bahuku.
Secara refleks pun aku teriak. Kaget dengan tepukan Dani. padahal Dani hanya memberitau kalau sudah sampe disekolah. “Iya maaf, aku melamun. Mikirin Bunda,” jawabku malu.
“Sekarang waktunya sekolah. Kamu harus konsen belajar. Gak mau kan gara-gara mikirin Bunda, nilaimu jelek dan beasiswa mu dicabut,”
“Iya siap bos,”

Ucapan Dani tidak membuatku bisa konsen saat menerima pelajaran. Saat pelajaran pak Wico pun pikiranku masih tak karuan. Aku masih memikirkan sikap Bunda yang belakangan ini berubah.
“Kristin, tolong ulangi apa yang saya sampaikan tadi,”
Ucapan pak Wico tidak membuatku sadar. Bahkan, Pak Wico sampai mengulangi kata-katanya dua kali, aku pun masih melamun. Melihat itu, Isnaini langsung menyenggol tanganku dan membuatku tersadar.
“Saya paling tidak suka kalau ada yang melamun saat pelajaran saya. Kris, kamu sekarang berdiri di depan,” bentak Pak Wico.

Seolah aku tidak punya pilihan lain, aku pun berdiri dan berjalan menuju depan kelas. Aku memang menyadari kalau ini semua salahku. Setelah jam pelajaran Pak Wico berakhir, aku pun di panggil Pak Wico ke ruang guru.
“Ada apa kamu Kris, kok sampai melamun di pelajaran saya? Ada masalah? tanya Pak Wico.
“Tidak ada apa-apa pak. Hanya masalah keluarga,” ujarku sambil mencoba menutupi.
“Iya Pak. Saya janji, saya tidak akan mengulanginya,” janjiku.

Sekembalinya dari ruang guru, aku langsung menuju ke kantin. Memesan bakso Q-ta dan segelas es jeruk agar moodku kembali. Sambil menunggu pesananku datang, tiba-tiba aku melihat di Instagram kalau status di IG ku tersebut mendapat bom like hingga 2600 like. Langsung aku membuka akun @sheilagankid yang mengadakan kuis untuk memperebutkan tiket 5upergrup. Di akun tersebut tertulis kalau menggunakan jasa bom like tidak akan diakui.
“Pasrah aja deh, kalau memang itu rejekiku, aku pasti menang,” batinku.

***
Waktu yang aku tunggu akhirnya tiba juga. Saat jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Pengumuman pemenang kuis. Ternyata benar dugaanku. Aku tidak berhasil memenangkan kuis tersebut. Aku pun berjalan keluar kamar dan mambuat secangkir coklat panas. Konon, kata orang coklat bisa menenangkan diri.

Kulangkahkan kaki ke luar kamar. Tampak suasana sangat sepi, aku pun berjalan ke arah kamar Heco. Terlihat Heco sudah tertidur pulas. Aku pun berjalan ke kamar bunda. Melihat apakah Bunda sudah pulang atau belum. Kubuka pintu kamar Bunda, terlihat pintu kamar Bunda masih kosong dan rapi. Itu artinya Bunda belum pulang. Aku pun langsung membuat secangkir coklat panas.

Setelah coklat panas buatanku tersedia, aku langkahkan kakiku kembali ke kamar. Sebelum sampai kamar, aku melihat  Bunda datang.
“Bunda, baru datang,” tanyaku.
“Iya sayang. Maaf ya bunda beberapa hari ini sibuk. Bunda besok malam ada acara kantor di Batu. Besok kamu sama Heco nginep di rumah Pakde ya?,”
“Iya Bunda. Kristin masuk ke kamar dulu,”

Pikiranku kembali berlari-lari tak tentu arah. Memikirkan sikap Bunda yang belakangan ini berubah sangat drastis. Setelah coklat panasku habis, aku memutuskan untuk tidur.


***Bersambung***

1 komentar: