November 21, 2017
1
Gambar terkait



Malam ini, aku dan Heco pun dijemput pakde untuk menginap di rumahnya, sedangkan Bunda pergi ke Batu acara kanto. Aku tidak tahu apakah perkataan Bunda itu benar. Aku hanya pasrah saja.

Setelah Kristin dan Heco di jemput pakdenya, rupanya Wico menjemput Winda. Winda dan Heco pun pergi menghabiskan waktu berdua ke Batu. Dalam perjalanan menuju Batu, tangan Winda selalu berada di genggaman Wico. Canda tawa dan kemesraan menghiasi perjalanan mereka berdua.

Sesampainya di Batu, Wico pun langsung menyewa villa dan mencari 2 kamar. Awalnya mereka tidur di kamar terpisah. Namun, hawa dingin Batu, membuat Wico dan Winda selalu berdekatan, dan tidur dalam dekapan mesra.

Setan tiba-tiba merasuki Winda dan Wico. Hubungan yang semestinya belum mereka lakukan, akhirnya kejadian juga.
“Kenapa kita harus melakukan hubungan ini mas. Apalagi kita kan belum menikah,” tangis Winda.
“Tenang saja sayang, kita akan menikah secepatnya. Aku akan bilang ke Kristin kalau aku akan menjadi ayah tirinya,” janji Wico.

Sejak kejadian itu di Batu, hubungan Winda dan Wico pun kian mesra. Setiap hari, Wico selalu menjemput Winda pulang kerja, dan mereka sering jalan berdua, entah itu sekedar makan malam ataupun ngobrol di rumah Wico. Setiap hari Winda selalu pulang ke rumah jam 9 malam. Bahkan, hampir seminggu sekali mereka melakukan hubungan istri.


***
“Kenapa belakangan ini sikap Bunda berubah? Bunda selalu pulang malam,” protesku.
“Maafkan Bunda ya sayang, belum waktunya Bunda bercerita,” jawab Bunda.

Jawaban Bunda ini membuatku bingung dan penasaran. Ada apa dengan Bunda. Hatiku kian hari kian berkecambuk. Aku seringkali tidak konsen belajar. Di saat aku tidak konsen belajar, Dani langsung menegurku. Dani langsung mengingatkannya. Dani tidak ingin beasiswaku di cabut.
“Sudahlah Kristin, kamu fokus sama sekolahmu saja. Aku yakin kok suatu saat  Bundamu pasti akan cerita. Ingat, kamu kan tidak mau beasiswamu dicabut. Kalau kamu begini terus, nilaimu akan jelek dan beasiswamu pasti di cabut,” ujar Dani yang tak pernah berhenti untuk mengingatkanku

***
“Mas, aku telat nih. Belum mens. Harusnya aku sudah mens minggu kemarin,” pesan singkat yang dikirim Winda ke Wico pagi ini.
“Tenang ya sayang. Mungkin kamu kecapekan,: hibur Wico.

Pesan singkat yang dikirim Winda tersebut membuat Wico tidak fokus mengajar. Akhirnya Wico pun memutusukan untuk imenyudahi kelasnya dan kembali ke ruang guru. Sambil berjalan, tak sengaja, Wico pun menabrak Mabruroh. Guru baru yang ada di SMA Merah Putih. Mabruroh memiliki kulit putih bersih, ditambah dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibir Mabruroh. Wajahnya seperti artis Rina Gunawan hampir membuat semua guru di SMA Merah Putih terpikat. Begitu juga halnya dengan Wico.

Pertemuan singkat antara Mabruroh dan Wico membuat Wico melupakan pesan singkat yang dikirim Winda.
“Untuk menebus rasa bersalah saya, pulang nanti saya akan antar bu Mab,” bujuk Wico.
“Tidak usah pak. Saya nanti naik taksi online saja. Saya tidak mau merepotkan Pak Wico,”
“Saya tidak merasa direpotkan kok bu. Nanti saya antar ya,”

Seolah tidak ada pilihan, Mabruroh pun menerima tawaran dari Wico. Sepulang mengajar, Wico mengantar Mabruroh pulang. Selama di perjalanan, Wico dan Mabruroh makin akrab. Wico pun mengetahui kalau Mabruroh belum menikah dan usianya 10 tahun lebih muda dari dirinya.

****
Sejak mengenal dengan Mabruroh sikap Wico pun mulai berubah kepada Winda. Wico sudah tidak menjemput Winda di kerjaannya. Bahkan, Wico sudah mulai jarang SMS ataupun telepon Winda.

Sikap Wico yang berubah tersebut membuat Winda kebingungan. Apalagi tadi pagi, Winda mencoba test pack dan hasilnya positif. Winda mengandung anak Wico. Hasil yang terlihat di test pack itu tentu saja membuat Winda kebingungan.


1 komentar: