November 22, 2017
2
Gambar terkait



Setelah mengetahui hasil testpack tersebut, Winda seharian ini mencoba untuk menghubungi Wico. Namun nomer handphone Wico tidak pernah aktif. Hati Winda bingung tak karuan. Takut Kris dan Heco mengetahui bahwa Winda sedang hamil.

Sepulang kerja, Winda langsung menuju ke rumah Wico.  Namun sayangnya, Wico belum sampai di rumah. Kegalauan kian melanda hati Winda. Winda pun akhirnya menunggu kepulangan Wico. Akhirnya jam 9 malam, Wico pun pulang. Wico sangat kaget melihat Winda ada di depan rumahnya.
“Ada apa dek, kok kamu ada di rumahku,” tanya Wico.
“Bisa kita bicara mas?,” pinta Winda.

Mendengar permintaan Winda tersebut, akhirnya Winda dan Wico pun masik ke  dalam rumah. Winda pun menunjukkan hasil testpack tadi pagi. Wico sangat kaget. Wico sadar harus bertanggung jawab dengan Winda. Karena bagaimanapun anak yang dikandung Winda itu adalah anak Wico. Namun disisi lain, Wico sudah mulai jatuh hati kepada Mabruroh.

“Tenang ya dik, aku akan bertanggung jawab,” ucap Wico sambil menutupi kegelisahannya.
“Sudah malam ini dik. Ayo kamu aku antar pulang. Kamu tenang aja, besok kita bicara lagi. Aku capek dan kamu juga capek,” lanjut Wico.

Selama dalam perjalanan pulang, Wico pun diam membisu. Tidak ada sepata katapun yang keluar dari mulut Wico. Melihat hal itu, Winda pun juga hanya bisa ikutan diam. Pasrah dengan semua yang terjadi.
“Mas.aku gugurkan aja anak ini,”
“Jangan dik. Bagaimanapun juga, anak ini buah cinta kita. Aku pasti bertanggung jawab kok. Besok malam kita ke dokter ya. Kita periksakkan kondisimu,”

***

Sejak mengetahui Winda tengah mengandung anak Wico, sikap Wico pun mulai berubah kepada Mabruroh. Secara perlahan, Wico menjauhui Mabruroh.Setiap berpapasan dengan Mabruroh, Wico berusaha menghindar. Bahkan setiap jam istirahat, Wico tidak berada di ruang guru, Perubahan sikap Wico membuat Mabruroh gelisah. Apalagi benih-benih cinta di hati Mabruroh mulai tumbuh. Mabruroh mulai jatuh cinta ke Wico dan mulai berharap Wico akan menjadi suaminya kelak.
“Ada apa pak Wico, kok sikap Pak Wico ke aku seminggu ini berubah drastis,” tanya Mabruroh seusai rapat guru.

Antara Mabruroh dan Wico pun sepakat kalau berada di sekolahan memanggil dengan sebutan Bapak ataupun Ibu.

"Tidak ada apa-apa Bu. Saya lagi ada masalah. Nanti siang setelah pulang sekolah, temani saya makan siang ya Bu. Sekaligus ada yang mau saya bicarakan,”

Selepas jam sekolah, akhirnya Wico dan Mabruroh pun pergi makan siang bersama. Rumah makan Sunda menjadi tempat makan siang mereka. Sambil makan, Wico pun bercerita kalau kini calonnya sedang mengandung anaknya. Hati Mabruroh benar-benar hancur berkeping-keping mengetahui Wico sudah punya calon istri. Namun, Mabruroh tidak mau menampakkan kesedihan di hatinya kepada Wico. Mabruroh mencoba tegar dan menahan agar air matanya tak turun.
“Kalau begitu, Mas Wico harus bertanggung jawab. Apalagi Mas kan seorang guru,” saran Mabruroh.

Saat asyik makan, secara tak sengaja Winda melihat Wico makan berdua dengan seorang wanita. Hal itu membuat hati Winda sakit. Tanpa pikir panjang, Winda pun langsung menghampiri mereka berdua.
“Mas, jadi begini toh kelakuan kamu. Kamu lupa, kalau saat ini aku sedang mengandung anakmu,” isak Winda.
Setelah berbicara begitu, Winda pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Itu tadi Winda, calon istriku Mab. Aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita berdua,”
“Ayo mas, kita temui. Kita selesaikan biar mba Winda tidak salah paham,” Mabruroh mencoba bijak.

Wico pun langsung membayar makanan yang mereka pesan dan menghampiri rumah Winda.

***

Assalam mualaikum....
Suara salam di depan pintu membuatku langsung berdiri menghampiri pintu. Aku langsung membuka pintu rumah. Di depan rumah, terlihat Pak Wico dan Bu Mabruroh.
“Ada apa gerangan, kok Bu Mab dan Pak Wico datang ke rumah,” batinku bertanya.
“Bunda ada Kris?,” tanya pak Wico.
“Bunda belum pulang pak. Ada apa?,” tanyaku sambil penasaran.
“Boleh Pak Wico dan Bu Mab masuk,”
Mendengar permintaan itupun, aku langsung mempersilahkan Pak Wico dan Bu Mab masuk ke dalam rumah.
Setelah di dalam rumah, pak Wico memintaku menghubungi Bunda. Aku pun mencoba menghubungi Bunda. Namun sayang, handphone Bunda pun off.
“HP bunda off pak,” jawabku singkat.
“Baiklah, nanti tolong sampaikan ke Bunda, kalau Bapak dan Bu Mabruroh datang ke rumah ya,” pamit pak Wico.

Sepulangnya Pak Wico dan Bu Mabruroh, hatiku masih bertanya. Ada apa gerangan kok sampai Pak Wico dan Bu Mab  mencari Bunda. Kucoba menghubungi Bunda lagi, namun handphone Bunda masih off.
“Sudahlah, nanti saja kalau Bunda sudah pulang, aku akan bertanya ke Bunda ada masalah apa dengan pak Wico dan bu Mabruroh,” batinku lagi.

*** BERSAMBUNG***





2 komentar: