SOCIAL MEDIA

Sabtu, 04 November 2017

Namaku Dian



Hasil gambar untuk kartun namaku dian

Hampir seluruh siswa SMAN 1 mengenal sosok Dian. Tidak ada yang istimewa dari penampilan Dian. Nama Dian sudah terkenal di SMA 1. Semua guru, staff maupun siswa siswa kelas 1 dan 3 pun juga mengenal Dian. Ketenaran Dian di sekolah itu bukan karena wajahnya yang cantik, melainkan karena kecerdasan otak Dian. Kata cantik seolah jauh dari diri Dian. Penampilannya yang sangat sederhana, bahkan terkesan ndeso menjadi ciri khas Dian sehari-hari. Rambut panjangnya selalu dikepang dua ditambah lagi kacamata tebal selalu ada di wajahnya.
“Pagi pak,” sapa Dian kepada satpam di sekolahnya
“Pagi juga mba Dian. Seperti biasa aja nih,” balas satpamnya

Dian hanya tersenyum mendengar jawaban dari satpam di sekolahnya. Setiap hari jam 6 pagi, ditemani dengan sepeda kumbangnya Dian sudah sampai di sekolah. Padahal pelajaran sekolah Dian baru dimulai jam 7 pagi.

Sambil menunggu bel sekolah berbunyi, Dian selalu membaca buku pelajaran. Tak berapa lama, teman-teman sekelas Dian pun mulai berdatangan. Suasana riuh dan gaduh sudah mulai terdengar di kelas Dian. Tanpa pikir panjang Dian pergi melangkahkan kakinya ke masjid yang ada di sekolahnya. Dian menunaikan sholat Dhuha dahulu sebelum pelajaran dimulai.  

Saat jarum jam sudah menunjukkan jam 1 siang, bel pulang pun berbunyi. Semua teman-teman Dian bersiap untuk segera pulang. Tapi tidak halnya dengan Dian. Dian masih duduk manis di mejanya. Setelah kelas kosong, Dian kembali membuka buku pelajarannnya. Dian kembali mengulang semua pelajaran sekolah yang di dapatkannya hari ini. Bahkan, tidak jarang,  Dian sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya di sekolah. Setiap ada lomba cerdas cermat, SMA 1 selalu melibatkan Dian di setiap perlombaan, dan selalu pulang membawa juara 1. Tidak hanya lomba cerdas cermat, lomba karya tulis pun Dian selalu meraih juara 1.
“Dian, pertahankan prestasi kamu ya. Bapak yakin, nanti kamu akan diterima di UI,” ujar Pak Soni, Kepala Sekolah SMA 1
“Iya Pak. Insha Allah akan Dian pertahankan,” jawab Dian sambil menunduk.

Dibalik keberhasilan Dian di bidang akademik, siapa yang menduga kalau Dian termasuk anak yang broken home. Kedua orang tua Dian berpisah sejak Dian masih berusia balita, dan Dian hanya tinggal bersama neneknya. Setiap pulang sekolah, Dian selalu membantu neneknya berjualan di warung kecil milik neneknya.
“Dian... Makan dulu sana,” teriak nenek Dian membuyarkan lamunan Dian
“Iya Nek,” jawab Dian sambil berjalan keluar kamar.

Setelah makan, Dian pun langsung ke belakang. Cucian piring sudah menumpuk.
“Ingin rasanya aku melakukan sesuatu yang beda. Ingin sekali-kali aku jalan-jalan. Tapi, kalau aku jalan-jalan, bagaimana dengan Nenek. Nenek pasti akan sibuk sekali,” batin Dian

Saat kenaikan kelas 3 tiba, Dian kembali dinobatkan sebagai juara umum. Beasiswa selama setahun ke depan sudah di gengamnya.
“Nenek bangga sama kamu Dian. Meski kamu sejak kecil tinggal sama nenek, tapi kamu sedikitpun tak mau merepotkan nenek.  Dian harus jadi orang sukses pokoknya,” pesan nenek Dian.
“Iya Nek. Dian janji,”

Selama kelas 3, tidak ada yang berubah dari penampilan  dan keseharian Dian. Dian masih bangga dengan rambut panjangnya yang dikepang dua dan kacamata tebal yang menghiasi wajahnya.  
Saat jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba Dian dipanggil ke ruang Kepala Sekolah.
“Dian, selamat ya. Kamu mendapatkan beasiswa penuh masuk ke Fakultas Hukum UI,”  ujar Pak Soni.
“Terima kasih Pak. Ini semua juga berkat bantuan bapak dan semua guru yang ada disini,” jawab Dian sambil menangis bahagia.

Selepas lulus SMA, Dian pun mengambil beasiswa yang di dapatnya. Dian masih tetap dengan penampilan andalannya.

“Dian, sampai kapan kamu berpenampilan begini. Kapan kamu mau merubah penampilanmu. Ini sudah kuliah Dian,” saran Tina sahabat Dian sejak SMA
“Tidak apa-apa Tina. Aku nyaman dengan penampilan seperti ini,”
“Terus kalau penampilan kamu begini, bagaimana kamu bisa mendapatkan cowok?,”
“Aku akan mendapatkan cowok yang mau menerima aku apa adanya. Bukan karena penampilanku semata,”

Prinsip itulah yang terus dipegang Dian. 3,5 tahun lamanya Dian berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai Cumlaude. Keberhasilan Dian di bidang akademik, ternyata tidak di dukung dengan percintaan Dian. Dian sekalipun belum pernah berpacaran. Namun, siapa yang menduga meski belum pernah pacaran, sebulan setelah prosesi wisuda berlangsung, Dian dilamar Toni, teman masa kecilnya.

“Kamu kenapa mau menikahiku. Padahal, penampilanku jelek,” tanya Dian.
“Justru aku salut dengan kepintaranmu. Kepintaranmu tidak akan pudar oleh waktu. Kalau kecantikan, jika sudah tua, maka kecantikan itu akan hilang,” jawab Toni.

“Tetaplah menjadi Dian yang aku kenal,” lanjut Toni

Tidak ada komentar :

Posting Komentar